Rabu, 01 September 2010

mereka = kita

Setiap makan di warung tenda pinggir jalan, pasti nggak jarang ada waria yang ngamen. Kadang gue mikir, mereka adalah orang-orang dengan mental yang paling kuat. Mereka biasa di cemooh orang-orang, mereka biasa tidak di anggap memiliki hak yang sama, bahkan mungkin mereka sering di anggap bukan manusia. Terlepas dari hukum agama atau apa, tapi secara sosial, menurut gue, kita nggak berhak untuk menghakimi mereka dengan membedakan hak mereka. Untuk urusan dosa biar aja jadi urusan mereka sama Tuhan.

ini ada kisah yang menurut gue cukup inspiratif, gue ambil dari http://anwariksono.wordpress.com/2008/01/02/kisah-seorang-waria/ 



(hasil wawancara dengan Yuni Shara… Aktivis waria yang tinggal di Jogja… Bagi yang ingin contact dengan YS, bisa menghubungi saya. Saya juga telah membuat film dokumenter tentang dirinya…)



Pagi itu seperti biasa aku menjalani rutinitasku. Tak banyak yang bisa ku ceritakan. Aku hanyalah seorang waria biasa yang hidup dengan segala keterbatasan yang ku miliki. Menjadi waria bukanlah pilihan hidupku. Entah kenapa aku dengan fisik laki-laki ini justru memiliki naluri kewanitaan. Aku lahir 39 tahun silam di Yogyakarta tepatnya 2 Oktober 1967. Orangtuaku, Soebawal dan Soediyah memberiku nama Heru Baskoro. Aku anak ke 8 dari 9 bersaudara. Ayahku seorang pensiunan ABRI sedangkan ibuku hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa. Meskipun ayah orang militer aku tidak pernah dididik secara keras. Sampai akhirnya ayah meninggal di tahun 1994, beliau belum pernah sekalipun memukulku. Itu bukti bahwa ayah tidak melakukan pembelajaran dengan cara kekerasan. Kami anak-anaknya selalu diberi kebebasan untuk melangkah sendiri, sedangkan ayah dan ibu cukup memantau dan mengawasi kami.

Naluri dan jiwa wanita sudah terlihat sejak aku kecil. Lihatlah ketika aku difoto, aku selalu bergaya seperti perempuan. Aku pun lebih akrab dengan saudara perempuan dibanding saudara laki-laki. Aku lebih menyukai dan menikmati permainan perempuan seperti boneka, yeye dan pasar-pasaran daripada bermain bola seperti yang dilakukan oleh teman-teman laki-laki sebayaku. Aku merasa nyaman ketika bermain dengan anak-anak perempuan.

Sewaktu aku belum sekolah pun, teman-teman sudah banyak yang melihat keganjilan pada diriku. Mungkin mereka melihatnya dari gelagat, sikap, perilaku dan cara berbicaraku yang seperti perempuan sehingga mereka sering menyebut aku wandu istilah Jawa untuk menyebut waria, yang sekarang lebih popular dengan sebutan banci. Tapi aku tidak malu ataupun minder dengan sebutan itu, toh memang keadaanku seperti itu. Bahkan aku bangga karena aku memiliki kelebihan yang mungkin tidak dimiliki siswa lain, diantaranya aku kerap menjuarai lomba masak, aku juga sering diutus mewakili sekolah dalam lomba nyanyi.

Beranjak kelas 3 SD aku mulai menyukai lawan jenis, waktu itu aku menyukai mahasiswa yang kos dikampungku. Entah kenapa aku senang melihat wajahnya, melihat figurnya. Tentu saja aku hanya melihatnya dari jauh tidak mengutarakan isi hatiku padanya. Duduk di bangku SMP, aku sudah berani menunjukkan identitasku. “Ya inilah aku kok kenapa tidak.” Naik SMA aku sudah mulai berani menggunakan pernak-pernik perempuan seperti gelang, cincin dan kalung. Bahkan aku dibilang seperti Renny Djajusman. Selama SMA itulah gaya dan penampilanku tak bisa kututup-tutupi lagi. Setiap hari sebelum berangkat sekolah, aku selalu menggunakan handbody dan bedak tipis. Pakaianku pun kusetrika dengan sangat rapi, berbeda sekali dengan penampilan siswa putra pada umumnya. Waktu itu bisa dibilang aku siswa paling popular satu sekolah. Selain populer karena keunikanku, aku juga dikenal karena aku masih sering mengharumkan nama sekolah dalam lomba-lomba nyanyi.

Setelah lulus SMA aku memutuskan untuk pergi dari rumah. Aku butuh waktu untuk merenungi siapa diriku yang sebenarnya. Aku hijrah ke Jakarta tahun 1988. Awalnya aku berencana untuk kuliah, namun ketika tiba di Jakarta niat tersebut kuurungkan, karena aku menemukan duniaku. Aku masuk dalam komunitas gay dan menemukan keasyikan dengan teman-teman senasib karena pada dasarnya orientasi kami sama. Di Jakarta pula aku sempat bekerja menjadi operator dan sales produk rumah tangga.

Tahun 1994 aku mengadu nasib di kota Lampung. Aku sempat bekerja di Departemen Transmigrasi dan di salon. Tak betah disana aku pergi ke Solo dan bekerja sebagai buruh tekstil. Tak sampai satu tahun aku kembali ke rumahku di Jogja. Aku kembali bergaul dengan komunitas gay yang saat itu berlokasi di Alun-Alun Utara.

Pada tahun yang sama aku berkenalan dengan seorang waria bernama Carla. Carla mengajakku berdandan karena dengan begitu aku akan lebih mudah menarik simpati lelaki. Pada usia 27 tahun itulah aku pertama kali berdandan dan saat itu juga aku memutuskan untuk lepas dari orangtuaku. Aku lalu kos di dekat Hotel Melia. Tiap malam aku diajak Carla mejeng ke tempat-tempat lokalisasi waria. Namun aku belum mengkomersilkan diri. Lama-kelamaan karena faktor keuangan akhirnya aku mulai berani melakukan transaksi dalam tiap kencanku.

Yuni Shara. Nama itu sebenarnya hanya kebetulan karena aku suka menyanyi lagu-lagu Yuni Shara yang oldies, karena pas dengan karakter vokalku. Waktu itu aku menyanyikan lagu Hilang Permataku, teman-teman mengatakan bahwa warna suraku persis seperti Yuni Shara. Sejak itu aku pun sering dipanggil Mbak YS oleh teman-teman ataupun lingkungan sekitar tempat tinggalku.

Tahun 1997 aku bertemu seorang laki-laki yang mampu merebut hatiku. Aku tidak tahu apakah ini yang dinamakan cinta pertama, tapi aku benar-benar mengagumi sosok itu, sosok yang kunamakan Arjunaku. Tiap malam ketika bertemu dengannya aku selalu dimabuk cinta. Akhirnya kami sepakat untuk berkomitmen hidup bersama. Walaupun tanpa ikatan yang sah, kami menjalani kehidupan layaknya suami istri. Kami tinggal satu rumah di kontrakanku di daerah Kricak. Saat itulah aku merasakan dunia seorang perempuan karena tiap hari aku berperan sebagai ibu rumah tangga, memasak, mencuci baju, dan menunggu arjunaku pulang kerja.

Tahun 2000 Arjunaku memutuskan untuk menikah dengan seorang perempuan. Aku memang sedih namun aku menghargai keputusannya karena aku sadar dengan posisiku saat itu. Akhirnya ia menikah dan dikaruniai anak. Meski sudah menikah ia tak bisa jauh-jauh dariku, ia mengontrak di dekat kontrakanku bersama dengan istri dan anaknya. Meski begitu kami tetap rukun. Bahkan ketika kontrakannya habis, kami tinggal berempat di kontrakanku. “rasa cemburu, jealous itu pasti ada tapi bagaimana cara kita mengatur dan mengontrol kadar jealous itu sendiri. Aku waktu itu hanya membantu sebisaku.” Hanya tiga bulan mereka hidup bersama denganku, setelah itu mereka pulang ke kampung Arjunaku di Magelang.

Untuk melupakan Arjuna, aku harus mencari kesibukan karena bagiku sulit sekali mengikhlaskan laki-laki yang sangat kucintai. Aku tidak bisa seterusnya merenungi nasibku. Perlahan-lahan aku mulai bangkit.

Seperti biasa malam itu aku mejeng di Stasiun Tugu. Aku melihat beberapa mahasiswa dan relawan membagi-bagikan kondom dan berbagai informasi di tempat lokalisasi. “Lantas aku berpikir, kenapa ya kok mereka care peduli dengan tmn2 ku, kenapa aku sendiri kok gak peduli dengan komunitasku. Lalu aku mencari informasi tentang HIV Aids, melalui brosur-brosur dan buklet. Trus aku maen juga ke PKBI. Lalu aku sempat ngobrol dengan mami Vina, koordinator saat itu dan kebetulan di PKBI sedang membutuhkan volunteer nah aku masuk saat itu dan akhirnya lolos.”

Melihat latar belakangku, aku tidak malu bertanya. Untunglah teman-teman volunteer bersedia membantuku. Aku rajin datang ke kantor dan mengupdate informasi. Aku juga sering mengikuti pelatihan, seminar, workshop, lokakarya, pengayaan yang diadakan baik oleh PKBI maupun lembaga-lembaga luar. Aku selalu mempelajari isu-isu mengenai HIV/Aids. Aku juga sering diminta menjadi pembicara, diundang dalam acara-acara kemanusiaan, siaran radio, televisi dan lain-lain. Intinya aku ingin membuka dan mengembangkan wacana mengenai waria kepada masyarakat. Aku tidak mau berkutat di PKBI tanpa ada pengembangan apapun. Ilmu dan materi yang kudapatkan lantas ku bawa ke lapangan untuk kusharingkan dengan teman-teman waria.

anwar-riksono-yuni-shara.jpgDi PKBI divisi waria dipegang oleh aku, mami Vina, dan Ayi mahasiswi yang juga menjadi volunteer. Ayi lah yang paling akrab denganku. Aku merasa nyaman ketika harus menceritakan masalah-masalahku dnegannya. Tapi sekarang Ayi bekerja di sebuah lembaga diPapua masih menangani isu-isu HIV/Aids. Sejak aktif di PKBI aku pindah kos ke daerah Badran, supaya lebih dekat dengan kantor. Jaraknya juga lebih dekat dengan pangkalan tempat teman-temanku biasa mejeng. Selain itu aku ingin melupakan bayang-bayang Arjuna dikontrakanku yang lama.

Ketika ada pendaftaran menjadi koordinator divisi waria di PKBI aku belum berani mendaftar. Aku mempertimbangkan skillku, aku ingin menguasai permasalahan, karakteristik lapangan dan komunitas dalam waria terlebih dahulu. Ketika masuk PKBI pun aku dengan susahnya harus membangun kepercayaan dalam komunitas. Karena kritikan tajam, kecemburuan, rasa ketidakpuasan dalam komunitas waria sering aku alami.

Ketika akhirnya aku terpilih menjadi koordinator pun aku berusaha menjalankan tanggungjawab dengan sebaik-baiknya. Aku mencoba memperluas jaringan, aku berusaha untuk menjalin relasi dengan sebanyak-banyaknya orang. Selain sebagai pembicara aku sering diundang nyanyi, MC, siaran, dan presentasi. Tiap satu minggu dua kali aku mengikuti les Bahasa Inggris di tempat Pak RT, aku juga mengajarkan pengenalan huruf aksara, sebuah program belajar bersama, kerjasama dengan beberapa mahasiswa. Dari kegiatan-kegiatanku itulah orang mulai mengenalku, mengenal namaku. Aku memang haus untuk berkegiatan di luar, karena aku ingin terus mencari teman baru.

Jujur saja awalnya aku menyembunyikan identitasku sebagai waria, namun akhirnya toh keluargaku tahu. “Waktu itu ketika pulang ke rumah, ibuku sempat bilang ‘ yo ra popo dadi banci daripada dadi maling..’ secara tidak langsung aku telah mendapat restu dari orangtua.” Sampai sekarang aku selalu menyempatkan diri dua minggu atau sebulan sekali untuk menjenguk ibu dan saudara-saudaraku. Tentu saja aku masih mengingat Tuhan, aku masih menjalankan ibadah sebagai muslimah. Aku memang bukan pribadi yang sempurna tapi aku sangat yakin sekali bahwa Tuhan menyayangiku.

Kehidupan malam sebagai waria rentan dengan kekerasan, baik kekerasan bentuk fisik, sexual, maupun psikis. Apalagi aku ini orang lapangan, yang selalu bergelut dengan orang-orang dengan berbagai karakter. Aku harus bisa mengantisipasi ketika ada razia, ataupun ketika ada laki-laki mabuk yang minta dilayani. Namun itu semua aku anggap sebagai batu sandungan. Aku sudah kenyang sekali dengan kerikil-kerikil itu.

Sudah satu tahun terakhir ini aku jarang mejeng, namun aku masih memonitor kegiatan teman-temanku. Aku juga tidak melakukan transaksi lagi, karena aku ingin mengurangi tingkat pengidap HIV/Aids di Jogja. Beberapa temanku bahkan ada yang positif mengidap HIV/Aids. Aku tidak ingin hal itu terjadi padaku atau pada teman-temanku yang lain.

Saat ini aku sudah memiliki pengganti arjunaku, tempat hatiku bersemayam. Meskipun dia bukan cinta pertamaku tapi aku bahagia menemukannya. “Alhamdullilah dari dua cowok yang menjadi bagian dari hidupku orangnya baik, dan mereka tidak memanfaatkan aku. Kita saling mensupport kelemahan masing-masing.”

Aku sebenarnya takut menghadapi masa depanku, akan seperti apa aku nanti. Akan ada waria-waria yang lebih muda dan cantik, semua itu ada dalam gambaranku. “Tapi berjalan sajalah seperti air. Hidup kita itu seperti wayang yang sudah ada dalangnya, yaitu Tuhan. Hidup itu sudah ada skenarionya. Ibarat kapal kita lah nahkodanya, kita sendiri yang menentukan kemana arah hidup kita.” Aku sudah bisa menerima hidupku, Tuhan Maha Tahu, Maha Segalanya, toh seandainya aku hidup tua pun tanpa harus dandan, aku tetap merasa nyaman menyebut diri waria. Tapi aku tak mau pasrah begitu saja, aku juga punya planning selepas aku dari PKBI ini. Ada beberapa tawaran menjadi volunteer. Tapi ya itu aku butuh waktu untuk mengambil keputusan.

Kalo kata  - Rebbe Nachman of Breslov
" Even if you can't sing well, sing. Sing to yourself. Sing in the privacy of your home. But sing."
Jangan malu jadi diri sendiri, dan jangan pernah men-judge orang lain lebih buruk daripada kita. Keyakinan kita dan keteguhan kita yang bisa membawa kita menjadi sebenarnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar