Selasa, 31 Agustus 2010

brain vs heart

bagaimana cara nya kita tahu apa yang kita inginkan?
bagaimana kita tahu bahwa masa depan kita terjamin?
bagaimana kita tahu bahwa kita tidak akan menyesal di kemudian hari?
bagaimana kalau semua yang sudah di jalani hanya sia-sia?

pertanyaan-pertanyaan itu terus muncul di kepala saya. tatapan saudara dan orang tua yang sepertinya begitu besar ekspektasi nya terhadap diri saya. mereka mengira saya bisa menjadi seorang dokter gigi. tapi, kenyataan nya, saya sama sekali tidak merasa begitu.

saya coba flashback ke masa-masa kelas 3 sma dimana saya dengan otak pas-pas an ternyata berhasil masuk fakultas kedokteran gigi ugm. tentu saya senang, sangat senang, di saat teman-teman saya yang lebih pintar dari saya belum tahu akan kuliah dimana, saya sudah diterima. sesaat ada perasaan menang. mungkin arogansi.

dan hari ini, setelah 5 semester saya lalui di kampus fkg, saya masih merasa belum yakin apa yang sebenarnya saya ingin kan. otak dan hati saya masih berselisih. kalau ada yang pernah menonton 3 idiots, mungkin posisi saya mirip dengan farhan. tapi sayang itu hanya film, yang menurut saya susah untuk di realisasikan di dunia nyata.

hari ini, saya kembali menjalani rutinitas, rutinitas bermain dan berpikir. rutinitas mendengar dan menyaksikan peperangan antara logika dan perasaan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar