Minggu, 29 Agustus 2010

absurd


Terima kasih, kepada yogyakarta yang dengan kesederhanaan penduduk aslinya, keragaman budaya nya, dan sisi lain dunia yang di miliki nya, telah membuat saya belajar, tentang menjadi seseorang, yang kemudian merasa bahwa saya memang berasal dari tanah air ini. Betapa kerinduan akan rumah malah menguatkan saya untuk terus terbiasa, mencari sesuatu yang memang menanamkan dasar nya pada bumi, bukan hanya sekedar konstruksi congkak yang memandang rendah pada yang di bawah.
Saya senang, bahwa semua yang terjadi di sini, membuat saya mengerti, bagaimana saya harus bersikap dengan karakter tetap mengalir. Kadang-kadang penyesuaian memang menyakitkan, dan kadang-kadang, perbedaan yang begitu kentara bisa menjadi senjata yang membuat porak poranda pondasi kenyamanan yang telah di bangun. Saya yang hanya sendiri, sekarang mengerti, betapa pendirian, keteguhan, dan prinsip hidup begitu mahal harganya sampai sangat susah untuk tetap di jaga.  
Saya terus bersandar pada panas nya cuaca di yogya. Sampai tiba suatu saat dimana pencapaian itu akan datang membawa senyuman dan kebanggaan sebagai seorang pencari identitas dan haus akan intelektualitas diri. Saya menyenangi keabstrakan yang ada di sini. Saya suka memberontak aturan yang ketat disini, padahal secara tidak sadar saya memang terikat dengan kebiasaan dan adat yang bagi saya cukup menarik untuk di taati, apalagi untuk di tentang.
Tulisan ini menggambarkan betapa abstrak nya saya, sebagai individu kebingungan yang berusaha mengutarakan perasaan. Kata-kata ini memang begitu acak dan saya pun tidak terlalu mengerti apa artinya. Yang jelas, di kota ini, saya mendapat banyak jawaban yang selama ini tidak saya temukan bahkan di kota yang kata nya pusat dari segalanya. Saya bosan melihat bangunan penggusur rakyat miskin. Saya bosan melihat asap seperti air di musim hujan. Tapi, itu lah rumah saya. Dan yogya, adalah kota paling pas untuk melarikan diri dari kebisingan metropolis yang mendidik sebagian warga nya menjadi lebih sombong.
Saya beruntung rumah saya berada di pinggir kota. Saya beruntung menjadi saya yang sekarang, yang kurang gaul, yang kurang kaya, dan kurang cantik. Bukan merupakan suatu pesimisme. Tapi bersyukur, saya masih sadar bahwa ukuran yang pasti hanya ada di pelajaran eksakta. Dan tidak ada dalam suatu sistem yang dinamakan kehidupan karena manusia begitu jauh ekspektasi nya. Di sini, di kota ini, yogyakarta, saya sadar bahwa hidup seperti yang di gambarkan di film kadang ada benar nya. Bahwa lirik-lirik lagu dan peribahasa yang dulu saya  kira hanya hadir sebagai penghias sastra, memang ada kenyataan nya.
Jadi, mulai sekarang, saya akan terus belajar untuk menjadi seseorang yang berada di tengah-tengah kehidupan yang plural. Belajar menjadi pembawa perubahan yang mendobrak sistem. Belajar agar bisa mengambil pelajaran dari apa yang pernah terjadi. Proses ini, saya yakin tidak akan berhenti sampai saya mati. Karena itu, saya mau terus mencari apa yang disebut ”kehidupan”. Bukan mengukur kemakmuran, tetapi mencari kenyamanan saya sebagai seorang individu di tengah begitu banyak indivdu berpengaruh di pikiran saya.
Yogyakarta, 27 maret 2010


(inch©2010)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar